Tenggelamnya Industri Pers Ditelan Disrupsi

banner 468x60

Esai : Abdul Munib

Oleh karena kekuatan media siber pada umumnya tak mampu membayar wartawan secara UMR (upah minimum regional). Apalagi harus dalam jumlah wartawan banyak. Pemilik media online menggaji dirinya sendiri saja setengah mati.

Persoalan utama pers hari ini adalah kemerosotan total sisi ekonomisnya. Dan semua efek yang diakibatkan oleh itu jika pers dipaksakan hidup. Seperti nasib pers Barat yang berakhir menjadi alat framing ideologi Barat. Dan apakah kita akan menerima nasib seperti itu Pers jadi alat framing bagi pihak yang mbayarnya. Dewan pers dan organisasi-organisasi Pers seperinya sudah tak perduli hal itu. Apalagi ketentuan Dewan Pers mengharuskan bayar BPJS pula.

Bahkan pola uji kompetensi yang berdasarkan muda (waratwan), madya (redaktur) dan utama (Pimred) sudah tak relevan lagi. Sudah tak ada rapat redaksi yang berjenjang di ruang redaksi. Tak ada lagi hierarki. Hirarki hanya ada di era media cetak.

Hierarki struktural itu hanya ada di masa lalu, dan menghilang di masa media digital. Kini adalah jaman yang dengan sangat mudah dan murah bagib seorang wartawan punya media siber.

Disaat yang sama tidak ada juragan besar (bos) yang perusahaan sibernya dapat bertahan menggaji banyak waryawan apalagi di daerah. Kompas dan Tempo berlomba, bukan lagi dalam jurnalistik, tapi berlomba siapa lebih hebat dalam menjadi proksi asing.

Realitas ini sebenarnya bukan barang baru bagi dunia ekonomi terkait teori suplay-demand. Ke-tak-terbatasan platform media digital menjadikan suplay platform media digital bak air bah.

Boming informasi membawa konsekwensi produk berita/news nyaris tak punya harga. Ibarat jutaan bidadari yang kesemuanya cantik mempesona dan seksi ditengah segelintir pemuda.

Menjamurnya media siber bukan karena kemauan siapapun. Bukan kemauan pemerintah, bukan kemauan perusahaan media dan juga bukan kemauan wartawan. Menjamurnya media siber atau online disebabkan platform tak terbatas yang disediakan oleh teknologi digital.

Menggantikan platform lama yang terbatas : cetak (koran-majalah) dan frekwensi gelombang (radio dan televisi). Yang keberadaanya sekarang bertahan atau bertransformasi ke digital juga.

Perubahan jaman yang dipengaruhi oleh teknologi digital ini sebenarnya bukan hanya menimpa pers saja, melainkan menimpa hampir seluruh sendi kehidupan tatanan ekonomi manual. Glodok sebagai pusat barang elektronik langsung drop sepi. Kata lelucon tinggal satu toko di Glodok yang buka, setelah dicek ternyata sedang online juga.

Digital aplikasi memukul seluruh pola usaha lama dan merusak sendi-sendi harga dan kenyamanan belanja online. Termasuk belanja berita. Untuk apa beli berita kalau di laman portal sudah tersedia gratis. Keadaan ini orang sebut disrupsi.

Persoalannya adalah manusia jaman sekarang tidak suka mencari terlebih dahulu hakikat siber itu apa ? Istilah kerennya filsafat siber itu bagaimana ? Mari kita pelan-pelan bedah apa sesungguhnya yang terjadi dari ditemukannya teknologi digital ini.

Karakter media digital yang memiliki platform (medium) tak terbatas, memiliki kekayaan basis ilmu pengetahuan teknologi informasi yang hanya dimiliki negara maju. Negara dunia kedua apalagi ketiga akan hanya menjadi konsumen semata. Runtuhnya trand media cetak dan media frekwensi (koran dan televisi) tentu ini tanda berakhirnya pers model lama.

Pernyataan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang mengtakan bahwa Pemda Jabar telah ‘berhasil’ menurunkan anggaran Pemda Jabar untuk belanja kerjasama media dari 53 milyar ke hanya 3 miliar saja, menunjukan Pers sudah mulai ditinggalkan.

Bukan karena korannya tidak menarik atau berkurangnya penulis handal. Melainkan seluruh produk jualan media seperti tulisan sport news, features, investigasi, artikel opini ilmiah populer maupun karya grafisnya, tak memiliki misdak atau forma yang dapat membentuknya. Itu semua lumer di dunia maya.

Karya-karya jurnalistik tampil di layar handphone yang sempit tapi isinya bertebaran melebihi jumlah bintang dilangit. Bagaimana kita bisa bertemu seorang pelanggan disana ? Berita seorang wartawan dalam medium platform digital tak mungkin jadi pusat perhatian.

Nasib manufaktur nesin cetak kini memprihatinkan. Secara keseluruhan, nasib perusahaan mesin cetak Goss (sekarang Manroland Goss misalnya,) adalah bertransformasi menjadi penyedia layanan dan solusi hybrid untuk beradaptasi dengan era digital, bukan lagi sekadar produsen mesin cetak konvensional.

Indikator surutnya manufaktur mesin cetak baru menandakan industri ini amat tergerus oleh digital. Radio dan televisi sifatnya bertranformasi ke digital sekedar bertahan. Tak ada lagi daging empuk iklan seperti di masa lalu.

Heran dengan Dewan Pers dan organisasi wartawan seperti tak melihat realitas diatas. Bak rombongan pemain biola di kapal film Titanik yang menjelang tenggelam, tapi terus menggesek biolanya mengawal orkestra senjakala tenggelamnya induatri pers. Industri Pers boleh mati. Tapi wartawan tak pernah mati.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *