Oleh: Karmin Lasuliha, S.I.Kom.,M.KP.
Pendiri Yayasan Bina Genrasi Papua
Musprov Kadin Papua ke-VIII akhirnya berjalan mulus. Tidak ada keributan, tidak ada drama. Justru yang terlihat adalah suasana yang tenang dan elegan. Di ujung forum itu, Jacleana Joku terpilih secara aklamasi.
Ini bukan sekadar pergantian ketua. Ada sejarah yang ikut lahir di momen itu. Untuk pertama kalinya, kursi nomor satu Kadin Papua dipegang oleh seorang perempuan.
Jacleana bukan orang baru. Ia tumbuh dari dalam organisasi itu sendiri. Ia paham betul medan yang akan ia hadapi. Dan kini, ia melanjutkan tongkat estafet dari Ronald Antonio Bonai yang menutup masa jabatannya dengan sikap tegak.
Kalau bicara soal Ronald, satu hal yang sulit dilupakan: keberaniannya bersuara. Ia sering gelisah melihat pengusaha lokal hanya jadi penonton di tanahnya sendiri. Sementara peluang besar justru dinikmati pihak luar.
Ia cukup keras mengkritik praktik bisnis besar yang cenderung menutup ruang bagi pengusaha daerah. Bagi Ronald, ini bukan soal siapa kuat siapa lemah, tapi soal keadilan. Ia ingin pengusaha Papua ikut makan dari hasil pembangunan di tanahnya sendiri.
Selama memimpin, ia menanam satu hal penting: investasi harus melibatkan pengusaha lokal. Supaya uang tidak hanya lewat, tapi tinggal dan berputar di Papua.
Sekarang, tanggung jawab itu ada di tangan Jacleana. Ia paham betul, membangun usaha di Papua tidak semudah bicara di forum. Alamnya kaya, tapi medannya tidak gampang.
Banyak pengusaha bahkan sudah “kehabisan napas” sebelum sempat berkembang.
Jacleana tahu, dunia usaha di Papua tidak bisa jalan sendiri. Harus ada kerja sama dengan pemerintah. Tapi ia juga tidak ingin Kadin hanya jadi stempel. Ia ingin hubungan yang setara saling butuh, saling mengingatkan.
Kadin, menurutnya, harus hadir dengan solusi. Bukan sekadar datang saat acara, lalu hilang tanpa jejak.
Salah satu langkah yang ia dorong adalah membuka pintu lebih lebar. Selama ini, Kadin sering dianggap eksklusif tempatnya pengusaha besar saja. Jacleana ingin itu berubah.
Ia ingin Kadin turun ke bawah. Menyentuh pengusaha asli Papua dan pelaku UMKM. Ia ingin mereka tidak hanya bertahan, tapi naik kelas.
Baginya, potensi Papua tidak cukup hanya dibicarakan. Harus ada data yang jelas. Harus ada angka. Supaya ketika investor datang, Kadin bisa bicara tegas: ini peluangnya, ini hitungannya.
Tantangan berikutnya tidak ringan: menyatukan semua kepentingan. Papua luas, dan sering kali daerah merasa berjalan sendiri-sendiri.
Di sinilah kemampuan Jacleana diuji. Ia harus bisa merangkul semua, dari pegunungan sampai pesisir. Kalau ini berhasil, posisi Kadin akan jauh lebih kuat di hadapan pemerintah.
Dengan pengalamannya, ia juga mulai membuka jalan ke luar. Membawa Papua dikenal lebih luas, menarik investasi yang sehat, bukan yang sekadar datang lalu pergi.
Sekarang, cerita baru sudah dimulai. Dan Jacleana ada di tengahnya memegang arah, membuka jalan.
Kita lihat saja, sejauh mana tangan dinginnya bisa membawa ekonomi Papua berdiri lebih kuat, dan lebih berpihak pada orangnya sendiri.









