Jayapura — Lapbiru.com
Ikatan Pelajar Mahasiswa Jayawijaya Distrik Wame (IPMJ-DW) Kota Studi Jayapura akhirnya buka suara. Organisasi mahasiswa itu meluruskan sejumlah informasi yang beredar luas di grup WhatsApp, Messenger, dan media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Klarifikasi disampaikan secara resmi pada Sabtu (17/1). Isinya tegas, kabar yang menyebut Asrama Wame disewakan kepada mantan kepala kampung di Jayawijaya dinyatakan tidak benar.
“Informasi itu hoaks,” kata Wakil Ketua IPMJ-DW, Emaus Wanimbo, saat dikonfirmasi. Ia menjelaskan, yang datang ke asrama hanyalah empat kepala kampung dari Distrik Wame.
Itu pun sebatas kunjungan singkat selama empat hari. “Tidak ada sewa, tidak ada yang tinggal menetap,” ujarnya.
IPMJ-DW juga menyoroti foto yang beredar di media sosial. Foto tersebut disebut-sebut memperkuat isu penyewaan asrama. Menurut pengurus, klaim itu menyesatkan.
“Foto yang beredar bukan diambil di Asrama Wame Kota Jayapura,” tegas Sekretaris IPMJ-DW, Akil Wantik. Ia menilai, penyebaran foto tanpa konteks justru memperkeruh suasana dan memicu kesimpangsiuran informasi.
Isu lain yang dibantah adalah tudingan bahwa mahasiswa Distrik Wame di Jayapura mendukung 329 mantan kepala kampung dalam pengajuan keberatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). IPMJ-DW memastikan tidak pernah terlibat.
“Kami tidak pernah memberikan dukungan dalam bentuk apa pun,” kata Akil. Menurutnya, organisasi tetap menjaga jarak dari kepentingan politik maupun proses hukum pihak tertentu.
IPMJ-DW berharap klarifikasi ini menghentikan spekulasi yang berkembang di masyarakat. Mereka meminta semua pihak lebih berhati-hati menyebarkan informasi, terutama yang menyangkut nama organisasi dan mahasiswa.
“Kami ingin suasana tetap kondusif. Jangan sampai informasi keliru merugikan banyak pihak,” ujar Emaus.
Badan Pengurus IPMJ-DW menutup pernyataan dengan ajakan menjaga komunikasi sehat dan saling menghormati. Klarifikasi itu ditandatangani pengurus inti dan disebarkan sebagai pernyataan resmi organisasi.











