65 Tahun Injil GIDI di Yahukimo, Sekda Ingatkan Mimbar Gereja Jangan Jadi Sumber Perpecahan

banner 468x60

DEKAI , Lapbiru.com – Ribuan jemaat memadati GOR Abyu, Dekai, Kamis (21/5/2026), dalam ibadah syukur HUT ke-65 Injil masuk Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Yahukimo. Perayaan itu tak hanya menjadi momentum rohani, tetapi juga panggung seruan menjaga perdamaian di tengah situasi sosial dan keamanan yang masih rentan.

Ibadah syukur mengangkat tema “Bersatu dalam Kasih Kristus untuk Yahukimo yang Damai dan Sejahtera” yang diambil dari Efesus 4:1-4. Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan itu, mulai dari Ketua DPRK Yahukimo, Ketua FKUB, Ketua PGGY, tokoh adat, tokoh perempuan, hingga masyarakat dari berbagai wilayah.

Pemerintah Kabupaten Yahukimo diwakili Sekretaris Daerah Yahukimo, Redison Manurung. Dalam sambutannya, ia menegaskan perjalanan 65 tahun Injil di Yahukimo bukan perjalanan singkat.

“Ini perjalanan iman yang dibangun dengan doa, pengorbanan, air mata, dan kesetiaan para hamba Tuhan dalam memberitakan Injil di Yahukimo,” ujar Redison di hadapan jemaat.

Menurutnya, kehadiran Injil telah memberi pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat. Bukan hanya membangun sisi rohani, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan nilai kasih di tengah kehidupan sosial warga.

Redison juga menyampaikan apresiasi kepada GIDI yang selama ini dinilai konsisten menjadi mitra pemerintah dalam menjaga moral masyarakat dan menciptakan suasana damai di daerah.

Namun di balik suasana syukur itu, Sekda mengingatkan masih ada persoalan serius yang dihadapi Yahukimo. Ia menyinggung konflik sosial, tindakan kekerasan, peredaran minuman keras, perjudian, hingga provokasi yang berpotensi memecah masyarakat.

“Kita tidak boleh membiarkan hal-hal seperti ini merusak persaudaraan di Yahukimo. Saya ajak seluruh umat Tuhan bersatu menjaga daerah ini tetap damai dan diberkati,” tegasnya.

Ia juga memberi perhatian khusus pada peran gereja. Menurut Redison, mimbar gereja harus tetap menjadi tempat yang menyejukkan, bukan ruang yang memicu kebencian.

“Gereja harus jadi terang. Mimbar gereja harus menyuarakan kasih, pengampunan, persatuan, dan rekonsiliasi, bukan malah menumbuhkan permusuhan atau perpecahan,” katanya.

Redison menilai para hamba Tuhan memiliki pengaruh besar dalam membimbing generasi muda agar tidak terjerumus dalam kekerasan maupun mabuk-mabukan yang merusak masa depan.

Selain itu, masyarakat juga diminta tidak mudah terpancing isu-isu provokatif. Ia meminta setiap persoalan diselesaikan lewat komunikasi dan musyawarah.

Dalam kesempatan itu, Redison menegaskan stabilitas keamanan menjadi syarat utama pembangunan di Yahukimo. Tanpa kondisi aman, sektor pendidikan, kesehatan, hingga pelayanan masyarakat akan lumpuh.

“Kalau daerah tidak aman, pembangunan tidak akan berjalan. Sekolah terganggu, pelayanan kesehatan terhambat, dan masyarakat sulit maju,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Redison turut menyinggung bencana longsor di Pronggoli dan sejumlah wilayah lain di Yahukimo. Pemerintah, kata dia, sudah memberi perhatian serius terhadap warga terdampak.

Ia berharap seluruh elemen, termasuk gereja, tokoh adat, dan pemuda, ikut terlibat menjaga kebersamaan membangun Yahukimo.

“Yahukimo tidak bisa dibangun pemerintah sendiri. Semua harus jalan bersama. Kalau kita bersatu dalam kasih Kristus, saya percaya Yahukimo bisa bangkit, damai, dan sejahtera,” tutupnya.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60