Tutup Gerakan Doa dan Puasa Se-Tanah Papua, Gubernur MDF: Doa Harus Melahirkan Tindakan Nyata

banner 468x60

SENTANI, Lapbiru.com – Gubernur Papua Matius D. Fakhiri ( MDF) mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Gerakan Doa dan Puasa Massal Se-Tanah Papua Tahun 2026 sebagai kekuatan bersama untuk menjaga persatuan, perdamaian, dan pemulihan Tanah Papua.

Pesan itu disampaikan MDF saat menutup Gerakan Doa dan Puasa Massal Se-Tanah Papua Tahun 2026 di Rumah Doa Segala Bangsa Sentani, Kompleks Wisma Papua Alom, Jalan Gembiri Nomor 1, Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (3/9/2026).

MDF juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam gerakan tersebut. Mulai dari forum umat Kristen, gereja-gereja, komunitas doa, pemerintah daerah hingga masyarakat.

Menurutnya, semangat “Satu Hari, Satu Hati, Satu Doa bagi Papua” tidak boleh berhenti sebagai slogan. Semangat itu,, harus menjadi kekuatan bersama untuk membangun Papua.

“Doa dan puasa bukan hanya tentang kegiatan rohani, tetapi juga tentang kesediaan kita datang kepada Tuhan dengan satu hati, satu tujuan dan kerendahan hati,” ujarnya.

Ia mengakui Papua memiliki potensi besar. Namun, sejumlah persoalan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Kesenjangan pembangunan antarwilayah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan masyarakat hingga persoalan keamanan masih membutuhkan perhatian serius.

Karena itu, MDF menegaskan pembangunan Papua tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Seluruh elemen masyarakat harus ikut mengambil peran.

Pemerintah, menurut dia, membutuhkan gereja dan tokoh agama sebagai kekuatan moral. Tokoh adat dibutuhkan untuk menjaga nilai dan identitas masyarakat Papua.

Dunia usaha diharapkan menjadi penggerak ekonomi. Akademisi menjadi sumber pengetahuan, sementara pemuda menjadi energi perubahan.

Perempuan juga memiliki peran penting sebagai kekuatan dalam keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.

“Doa harus melahirkan tindakan nyata. Doa harus melahirkan pengampunan, kepedulian, pelayanan, kejujuran dan keberanian untuk berbuat baik,” tegasnya.

MDF mengajak masyarakat membawa nilai-nilai doa ke dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya di tempat ibadah, tetapi juga dalam membangun hubungan sosial, menjaga lingkungan dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.Menurutnya, semangat itu sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Papua, Terwujudnya Transformasi Papua yang Cerdas, Sejahtera dan Harmoni atau Papua CERAH. Papua Cerdas bukan sekadar berbicara soal pendidikan.

Lebih dari itu, Papua harus melahirkan masyarakat yang memiliki karakter, iman, pengetahuan dan kemampuan menentukan masa depannya sendiri.

Sementara Papua Sejahtera berarti pembangunan harus benar-benar dirasakan seluruh masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah dengan berbagai keterbatasan.

Adapun Papua Harmoni menjadi cita-cita untuk membangun kehidupan yang damai, saling menghormati, menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan.

MDF menegaskan masa depan Papua tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekayaan sumber daya alam.

Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakatnya untuk saling menghormati dan berjalan bersama.

“Kita boleh berbeda denominasi, latar belakang, suku maupun wilayah, tetapi kita memiliki rumah yang sama, yaitu Tanah Papua,” katanya.

Ia berharap Gerakan Doa dan Puasa Massal Se-Tanah Papua tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

Gerakan itu harus terus hidup melalui karya dan tindakan nyata seluruh elemen masyarakat.

Dengan memohon tuntunan Tuhan Yang Maha Kuasa, MDF kemudian secara resmi menutup Gerakan Doa dan Puasa Massal Se-Tanah Papua Tahun 2026.

Sementara itu, Ketua II Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua, Pdt. Lipiyus Biniluk, M.Th, menegaskan gerakan doa dan puasa tersebut tidak berhenti setelah kegiatan resmi ditutup.

Gerakan itu akan terus dilanjutkan sebagai bentuk komitmen bersama untuk menopang pemerintah dan masyarakat Papua dalam doa.

Menurut Lipiyus, doa menjadi salah satu kekuatan spiritual untuk menjaga Papua tetap berada dalam suasana aman, damai dan penuh persaudaraan.

“Gerakan ini akan terus dilakukan untuk menopang pemerintah dan seluruh masyarakat Papua dalam doa, sekaligus menjaga keamanan, kedamaian dan persatuan di Tanah Papua,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendeklarasikan tiga komitmen bersama.

Pertama, mengajarkan dan melaksanakan doa serta puasa di gereja-gereja.

Kedua, membangun bukit doa dan rumah doa sebagai bagian dari penguatan kehidupan spiritual masyarakat.

Ketiga, memperkuat gerakan doa bersama secara oikumenis dengan melibatkan seluruh hamba Tuhan di Tanah Papua.

Gerakan tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat persaudaraan dan menjaga Papua tetap damai.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply