Tahun 2022 terasa lengang bagi banyak orang. Dunia baru saja bangkit dari Covid-19, napas masih tertahan, langkah masih ragu. Tapi bagi Dina Darma, justru di masa sunyi itu hidupnya mulai berisik oleh mimpi.
Ceritanya sederhana. Berawal dari sebuah ruang tamu sempit. Bukan kafe estetik, bukan pula ruko megah. Hanya ruang biasa, dipenuhi tumpukan kain dan harapan yang belum tahu akan jadi apa. Di situlah sebuah butik kecil lahir. Modalnya tipis, tekadnya tebal.
Dina memulai semuanya tanpa sorak-sorai, hanya ditemani keyakinan bahwa pelan-pelan pun tak apa, asal jalan.

Receh dikumpulkan. Kesabaran diuji. Sampai suatu hari, sebuah keputusan besar diambil. Dua petak tanah di perempatan Skyline, Kampung Buton. Lokasi yang panas, berdebu, ramai oleh lalu-lalang kendaraan. Banyak yang ragu. Dina tidak. Ia menancapkan niat di sana nekat, tapi terukur.
Menariknya, Dina bukan tipe orang yang asal lompat. Saat ide membuka kedai kopi muncul, ia tak membiarkannya berhenti di angan.
Ia belajar. Serius. Ia pergi jauh, ke Jawa Barat, lalu ke Makassar. Membayar mahal untuk satu hal pengetahuan. Baginya kopi bukan sekadar minuman pahit pengusir kantuk. Kopi adalah disiplin. Soal suhu, tekanan, waktu, dan rasa hormat pada proses.

Pelan-pelan, mimpi itu menjelma nyata. Di perempatan Skyline Kota Jayapura, berdirilah Kopi Line. Bukan cuma tempat ngopi, tapi ruang bertemu. Anak muda, aktivis mahasiswa, pelaku usaha semua duduk sejajar, berbagi cerita di balik cangkir.
Kopi Line bukan lahir dari hobi semata. Ia adalah hasil dari modal nekat yang dirawat dengan profesionalisme.
Dina tahu, mimpi hanya akan bertahan jika kualitas dijaga.
Ia tak sendiri. Ada Harwin di dapur, meracik menu dengan rasa yang presisi. Ada Tasya di balik bar, tangannya cekatan, ritmenya tenang.
Ilmu yang Dina kumpulkan dari perjalanan panjang tak ia simpan sendiri. Ia bagikan. Ia wariskan. Dari situlah tim kecil yang solid terbentuk.

Tak heran, rasa kopi di sana punya kedalaman. Bukan euforia sesaat, tapi konsistensi. Kualitas menjadi harga diri, bukan slogan.
Meski begitu, Dina belum selesai. Dari sorot matanya saat memandang kedainya yang ramai, tampak jelas ini baru satu bab. Ia masih ingin melangkah lebih jauh, melampaui satu perempatan, melampaui satu kota.
Kisah Dina Darma mengajarkan satu hal penting bahwa mimpi besar tak selalu butuh lahan luas. Kadang, cukup sepetak tanah di pinggir jalan, keberanian untuk belajar, dan kesetiaan pada proses.
Dari situlah pusat dunia versi kita bisa tumbuh. Perlahan, tapi nyata.












