YAHUKIMO, Lapbiru.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo mulai bergerak mengejar ketertinggalan data pelayanan kesehatan. Lewat workshop yang digelar di Aula Kantor Partai NasDem Dekai, Jumat (22/5), Dinkes Yahukimo menggandeng tenaga ahli dari Provinsi Papua dan UNICEF untuk membenahi sistem pelaporan kesehatan yang selama ini dinilai belum maksimal.
Pelatihan yang berlangsung empat hari itu diikuti operator data, staf Dinas Kesehatan, rumah sakit, hingga perwakilan Puskesmas di wilayah perkotaan Dekai. Fokus utamanya adalah pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang diwajibkan pemerintah pusat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Yahukimo, Wanri Sirappa, mengatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi, terutama soal ketepatan input data pelayanan kesehatan di fasilitas medis.
“Sekarang ada 12 indikator SPM kesehatan yang wajib dipenuhi setiap daerah. Itu instruksi langsung dari Kemendagri. Jadi rumah sakit dan puskesmas harus benar-benar siap,” katanya saat ditemui di sela kegiatan.
Menurut Wanri, keterlibatan tenaga ahli dari UNICEF dan Provinsi Papua sengaja dilakukan agar operator data di Yahukimo tidak lagi mengalami kesalahan dalam penginputan laporan ke sistem nasional.
“Kami ingin data kesehatan Yahukimo bisa terekam baik di sistem pusat. Jangan sampai daerah lain sudah maju, tapi data kita masih tercecer dan sulit diakses,” ujarnya.
Ia menegaskan, validitas data menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan arah kebijakan kesehatan daerah. Pemerintah, kata dia, membutuhkan data riil untuk membaca kondisi pelayanan kesehatan di lapangan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Yahukimo, Ami Y. Yahuli, mengakui pelaksanaan bimtek belum bisa menjangkau seluruh fasilitas kesehatan di distrik-distrik terpencil.
Dari total 40 Puskesmas yang tersebar di Yahukimo, baru fasilitas kesehatan di wilayah kota yang dilibatkan dalam tahap awal pelatihan. Faktor cuaca, medan, dan transportasi menjadi kendala utama.
“Harusnya semua ikut, tapi kondisi geografis Yahukimo tidak mudah. Sebagian tenaga kesehatan juga masih berada di Jayapura, jadi sementara kami fokus dulu di wilayah kota,” jelas Ami.
Saat ini, pelatihan dipusatkan pada tiga Puskesmas perkotaan dan satu rumah sakit daerah. Mereka didorong untuk mempercepat pemenuhan standar pelayanan sesuai aturan Kementerian Kesehatan.
“Target kami bukan hanya operator bisa input data. Mereka juga harus mampu mengolah dan membaca data pelayanan kesehatan secara mandiri dan akurat,” tegasnya.
Dinkes Yahukimo berharap workshop ini menjadi langkah awal memperbaiki kualitas layanan kesehatan di daerah, dimulai dari pembenahan data yang selama ini menjadi titik lemah pelayanan publik.











