Didimus Yahuli Tegaskan Perdamaian Patah Panah di Wamena Tak Boleh Sekadar Seremoni

banner 468x60

WAMENA, Lapbiru.com – Prosesi adat Patah Panah yang digelar di halaman Polres Jayawijaya, Sabtu (23/5/2026), menandai berakhirnya konflik sosial antara kelompok masyarakat Wouma, Kurima, dan Lanny di Wamena dan sekitarnya. Ritual adat itu dihadiri para kepala daerah, tokoh adat, aparat keamanan, hingga pemuka agama dari wilayah Pegunungan Papua.

Hadir dalam acara tersebut  Gubernur Papua Pegunungan John Tabo, Bupati Jayawijaya, Bupati Lanny Jaya, serta Bupati Yahukimo Didimus Yahuli.

Didimus menegaskan, perdamaian lewat tradisi Patah Panah memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding penyelesaian administratif biasa. Menurut dia, perang antarsaudara tidak boleh lagi terjadi di tanah Papua.

“Saya memang tidak tertarik dengar perang. Perang itu orang sedang jalankan program kerja iblis,” kata Didimus kepada wartawan usai prosesi adat.

Ia menyebut konflik hanya membawa penderitaan bagi masyarakat. Karena itu, selama dua periode memimpin Yahukimo, dirinya mengambil sikap tegas melarang perang suku maupun tuntutan denda adat yang memicu konflik berkepanjangan.

“Sudah tujuh tahun saya tegas dan keras, tidak boleh ada perang. Puji Tuhan, perang memang tidak terjadi,” ujarnya.

Didimus mengaku bersyukur karena masyarakat Yahukimo mulai memahami pentingnya hidup damai dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. Bahkan, menurutnya, praktik tuntut denda akibat kecelakaan maupun konflik antarkelompok perlahan mulai ditinggalkan.

“Kalau soal tuntut-menuntut, denda-mendenda, ajak berperang, selama saya jadi bupati dua periode ini masyarakat sudah mulai sadar mana yang baik dan tidak baik,” katanya.

Dalam pernyataannya, Didimus juga menyinggung hubungan kekerabatan masyarakat besar di Pegunungan Papua. Ia menyebut suku Yali, Hubula, dan Lani berasal dari akar persaudaraan yang sama.

Ia mengibaratkan ketiga kelompok itu seperti anak-anak Nabi Nuh yang berasal dari satu keluarga besar.

“Orang Yali, Hubula, dan Lani itu sebenarnya keluarga besar. Jadi sangat tidak pantas kalau saudara perang dengan saudara sendiri,” tegasnya.

Menurut dia, masyarakat Yali mendiami wilayah timur pegunungan, Hubula berada di wilayah tengah, sedangkan Lani di bagian barat. Kedekatan sejarah dan wilayah itu, kata Didimus, seharusnya menjadi alasan kuat untuk menjaga persaudaraan.

Didimus berharap prosesi Patah Panah benar-benar menjadi akhir dari konflik yang sempat memanas di Wamena. Ia meminta seluruh pihak menjaga komitmen perdamaian adat yang telah disepakati bersama.

“Dengan kondisi brutal yang kemarin terjadi di Wamena, saya harap itu cukup satu kali untuk selamanya. Jangan terulang lagi,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Didimus menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses perdamaian. Ia secara khusus berterima kasih kepada Pj Gubernur Papua Pegunungan dan Bupati Jayawijaya yang dinilai cepat turun tangan meredam konflik.

“Terima kasih kepada Bapak Gubernur dan Bupati Jayawijaya yang sudah membantu masyarakat kembali aman dan tertib,” pungkasnya.

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60