Hormuz Dicekik, Barat Goyang Ekonomi Jadi Taruhan Utama, Dari Sudut Pandang Esai Abdul Munib

banner 468x60

Editorial : Lapbiru.com

Ketegangan di Selat Hormuz memasuki babak paling genting. Dalam 40 hari terakhir, jalur energi dunia itu seperti dicekik. Iran berdiri di depan. Barat tampak berhitung bukan soal menang atau kalah perang, tapi soal selamatkan ekonomi.

Esai ini disampaikan Abdul Munib, yang melihat konflik ini bukan sekadar adu militer, melainkan pertarungan strategi dan urat nadi ekonomi global.

Selat Hormuz jalur sempit tempat lalu lintas minyak dunia kini jadi titik panas. Iran disebut mampu mengendalikan akses di kawasan itu. Waktu kejadian berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Dampaknya langsung terasa. Harga energi naik. Pasar global goyah.

“Ini bukan perang biasa. Ini perang cara berpikir,” kata Abdul Munib dalam tulisannya.

Menurut dia, selama ini Barat mengandalkan dua kekuatan militer dan sistem ekonomi global. Mulai dari jaringan keuangan, lembaga internasional, hingga media. Semua jadi alat pengaruh.Tapi di Hormuz, pola itu berubah.

Iran tidak melawan secara terbuka. Mereka bermain di celah. Strategi asimetris. Tidak harus menang perang, cukup membuat lawan kehabisan tenaga terutama biaya.

“Barat bisa unggul senjata. Tapi mereka tidak siap kehilangan ekonomi,” ujarnya.

Munib melihat, Iran justru menyasar titik paling sensitif jalur distribusi energi. Jika Hormuz terganggu, bukan hanya militer yang kena dampak. Dunia usaha ikut terpukul. Industri berhenti. Harga melonjak.

Eropa, kata dia, mulai mengambil jarak. Tidak semua negara mau ikut dorongan Amerika Serikat untuk membuka paksa jalur tersebut.

“Mereka memilih selamatkan ekonomi masing-masing,” tulisnya.

Situasi ini membuat dilema. Jika Barat menyerang penuh, risiko kehancuran kawasan Timur Tengah terbuka lebar. Infrastruktur energi bisa hancur. Pasokan minyak tersendat lebih lama.

Di sisi lain, Iran disebut sudah menyiapkan skenario panjang. Mulai dari drone, rudal balistik, hingga pertahanan bawah tanah. Semua diarahkan untuk menjaga posisi di sekitar Hormuz.

“Perang ini soal ketahanan. Siapa kuat bertahan, dia unggul,” kata Munib.

Di Amerika Serikat, tekanan juga datang dari dalam negeri. Harga bahan bakar naik. Protes warga muncul. Situasi politik memanas menjelang pemilu sela.

Sementara itu, negara-negara Teluk ikut cemas. Basis militer Amerika ada di wilayah mereka. Jika konflik meluas, ekonomi mereka yang bergantung pada minyak dan jasa bisa ikut terpukul.

“Ini perang yang menyeret banyak pihak, bahkan yang tidak ingin terlibat,” ujarnya.

Munib menilai, Iran memahami karakter lawannya. Negara-negara Barat, dalam sistem kapitalisme, menempatkan ekonomi sebagai prioritas utama. Itu yang kini disentuh.

“Iran tidak perlu menang total. Cukup buat lawan kehilangan tenaga dan biaya,” Tulisnya.

Hingga kini, dunia masih menunggu arah konflik. Apakah akan berujung perang terbuka atau negosiasi diam-diam.

Satu hal yang pasti, Hormuz bukan lagi sekadar selat. Ia berubah jadi titik penentu arah ekonomi global.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *