TANJUNG PINANG, Lapbiru.com – Kabar baik bagi masyarakat Papua. Kapal cepat Ekspres Belibis 9 ditargetkan mulai beroperasi pada Januari 2027 untuk melayani rute Jayapura-Biak dan Jayapura-Serui. Kehadiran kapal ini bakal memangkas waktu perjalanan laut yang selama ini mencapai 27–28 jam menjadi hanya 10–11 jam.
Kapal berkecepatan tinggi tersebut kini memasuki tahap akhir penyelesaian. Bahkan, dalam uji coba atau sea trial di Tanjung Pinang, Belibis 9 mampu mencapai kecepatan hingga 31 knot.
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri bersama jajaran pemerintah daerah dan sejumlah pihak terkait turun langsung meninjau kondisi kapal sekaligus menyaksikan pengujian kecepatannya.
Kepala Dinas Perhubungan Papua Mathius Hartono Wally mengatakan, pengoperasian Belibis 9 merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat konektivitas transportasi laut antardaerah.
“Kami mengunjungi Tanjung Pinang untuk melihat kapal tipe kecepatan tinggi yang rencananya dikerjasamakan dengan Pemerintah Provinsi Papua dalam program konektivitas antarwilayah Papua,” katanya.
Direktur Utama PT Belibis Papua Mandiri H. Misbahuddin menjelaskan, progres pengerjaan kapal sudah mencapai 99 persen. Pekerjaan yang tersisa hanya tahap penyelesaian akhir dan pemasangan sejumlah aksesori.
Kapal tersebut dijadwalkan berangkat dari Sulawesi pada 15 November 2026. Jika sesuai rencana, Belibis 9 akan tiba di Jayapura pada 1 atau 2 Desember 2026.
Dari sisi kapasitas, kapal ini dirancang mampu mengangkut sekitar 430 penumpang. Terdiri atas 85 penumpang kelas VIP dan sekitar 360 penumpang kelas eksekutif.
Belibis 9 juga dilengkapi tiga mesin Caterpillar C32B dengan tenaga masing-masing 1.700 HP. Teknologi mesin tersebut disebut sebagai salah satu inovasi terbaru dan menjadi penggunaan kedua di Indonesia setelah Karimunjawa.
DPR Papua Apresiasi Langkah Gubernur
Rencana pengoperasian kapal cepat tersebut mendapat apresiasi dari Ketua DPR Papua Denny Henrry Bonai. Dia menilai langkah Gubernur Matius D. Fakhiri menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah merealisasikan janji peningkatan konektivitas transportasi di Papua.
Selama ini, keterbatasan transportasi pada jalur Jayapura-Serui dan Jayapura-Biak menjadi salah satu persoalan yang dikeluhkan masyarakat. Waktu perjalanan yang panjang membuat mobilitas warga belum berjalan maksimal.
“Kami memberikan apresiasi kepada Gubernur Papua. Sesuai janji kampanye terkait konektivitas, hari ini telah terjawab melalui Dinas Perhubungan. Ini menjadi jawaban atas kendala yang selama ini kita hadapi, khususnya rute Jayapura-Serui dan Jayapura-Biak,” kata Bonai di Tanjung Pinang, Senin (2/11/2026).
Namun, Bonai mengingatkan agar pembangunan konektivitas laut tidak berhenti pada dua rute tersebut.
Dia berharap pemerintah provinsi memperluas jaringan pelayanan hingga Mamberamo Raya, Waropen, dan wilayah lainnya. Dengan begitu, masyarakat di berbagai daerah bisa mendapatkan akses transportasi yang lebih baik.
“Kita berharap ke depan konektivitas ini bisa tersambung sampai Jayapura-Serui, Jayapura-Biak, bahkan Mamberamo Raya, Waropen, dan wilayah lainnya. Harapan kita seluruh wilayah Papua bisa terkoneksi,” ujarnya.
Bank Papua Siap Berikan Dukungan
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Bank Papua. Direktur Bisnis Bank Papua Luhut Selamat Pahottua Siahaan menegaskan pihaknya siap mendukung program pemerintah daerah, terutama yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, kerja sama antara Pemprov Papua dan Bank Papua menjadi bagian penting dalam mendorong pembangunan daerah.
“Ini suatu kebanggaan bagi kami sebagai Bank Papua bisa berkontribusi besar terhadap program-program Gubernur. Kami akan mendukung seluruh program pemerintah untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Papua,” ujarnya.
Dengan target operasional Januari 2027, Belibis 9 diharapkan menjadi solusi baru bagi mobilitas masyarakat Papua. Selain memangkas waktu perjalanan, kapal ini juga diharapkan memperlancar distribusi barang dan membuka akses ekonomi antardaerah.
Bagi masyarakat Papua, kehadiran transportasi laut yang lebih cepat bukan sekadar soal memangkas jam perjalanan. Lebih dari itu, konektivitas yang baik menjadi kunci agar wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau bisa semakin terhubung.











