JAYAPURA, Lapbiru.com – Produksi padi Papua mulai ditarget surplus beras. Balai Penerapan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua menyebut penerapan teknologi dan mekanisasi pertanian membuka peluang bagi Papua untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan beras sendiri, tetapi juga menciptakan surplus.
Kepala BRMP Papua Dr. Aser Rouw mengatakan salah satu pendekatan yang mulai diterapkan adalah Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS). Sistem ini mengatur jarak tanam lebih rapat sehingga populasi tanaman bisa meningkat tiga hingga empat kali dibandingkan pola konvensional.
“Populasi yang meningkat itu kita dekati dengan manajemen yang presisi. Pemupukannya terukur, pemeliharaan juga terukur, dan full mekanisasi,” kata Aser seusai panen padi di Koya Timur, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Kamis (1/10/2026).
Penerapan teknologi tersebut telah diuji di lahan percontohan seluas dua hektare. Hasilnya mencapai sekitar 8 ton per hektare.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi padi Papua yang berada di kisaran 5 ton per hektare.
Menurutnya, produktivitas masih bisa digenjot hingga 10–12 ton per hektare. Syaratnya, teknologi pertanian, benih unggul, pemupukan terukur, serta penggunaan alat mesin pertanian diterapkan secara optimal.
“Masih ada peluang untuk meningkatkan produktivitas. Kuncinya teknologi dan pengelolaan yang presisi,” ujarnya.
Kementerian Pertanian sendiri menargetkan penerapan sistem pertanian modern secara nasional di lahan seluas 1 juta hektare. Papua mendapat alokasi sekitar 425 hektare.
Papua juga memiliki sekitar 1.807 hektare lahan sawah baku, di luar lahan yang masih dalam proses pencetakan. Jika seluruh lahan tersebut dikelola dengan sistem pertanian modern, produksi diperkirakan bisa mencapai lebih dari 5.000 ton.
Aser optimistis kapasitas produksi akan meningkat setelah program cetak sawah selesai.
“Kalau cetak sawah selesai dan pendekatan yang sama diterapkan, dengan dukungan alat mesin pertanian, saya yakin Papua bisa swasembada 100 persen dalam dua sampai tiga tahun,” katanya.
Target tersebut membutuhkan kerja lintas sektor. BRMP tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog, hingga pelaku usaha pertanian harus terlibat dalam pengembangan produksi dan distribusi.
Baginya, peningkatan produksi harus diikuti dengan kepastian penyerapan hasil panen. Jika produksi sudah surplus, Papua memiliki peluang memperluas pasar beras ke wilayah sekitar.
“Kalau produksi surplus, kita bisa memenuhi kebutuhan Papua sekaligus memasok wilayah sekitar, termasuk Maluku dan kawasan negara tetangga,” pungkasnya.











