Mimika – Lapbiru.com
Konflik antara masyarakat Suku Kamoro dan Suku Mee di wilayah Kapiraya, perbatasan Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deyai, Provinsi Papua Tengah, hingga kini belum sepenuhnya reda.
Melianus Numang, ST, tokoh intelektual Kabupaten Mimika angkat bicara. Ia menilai ada kejanggalan di balik pecahnya konflik tersebut.
“Saya mewakili tokoh intelektual Mimika ingin menyikapi konflik yang terjadi antara masyarakat Kamoro dan Mee di Kapiraya. Sampai hari ini situasinya masih berlanjut,” kata Melianus kepada wartawan, Kamis (19/2).
Menurut dia, sejak dulu kedua suku hidup berdampingan tanpa gesekan berarti. Hubungan sosial berjalan baik. Tidak ada riwayat konflik terbuka seperti yang terjadi sekarang.
“Sejak dulu tidak pernah ada konflik antara Kamoro dan Mee. Mereka hidup rukun, bersahabat, saling menghormati. Baru kali ini terjadi seperti ini,” tegasnya.
Karena itu, ia menduga ada pihak lain yang bermain di balik situasi tersebut.
“Kami melihat ada kemungkinan pihak ketiga yang punya kepentingan tertentu. Jangan sampai masyarakat diprovokasi atau diadu domba,” ujarnya.
Ia meminta jika memang ada aktor yang memanfaatkan situasi, agar segera menghentikan manuvernya.
“Kalau ada yang mempermainkan masyarakat di wilayah perbatasan itu, kami minta segera dihentikan. Jangan jadikan masyarakat sebagai alat kepentingan,” katanya.
Selain itu, Melianus mendesak pemerintah daerah segera turun tangan. Ia meminta Gubernur Papua Tengah, Bupati Mimika, dan Bupati Deyai duduk bersama mencari solusi.
“Pemerintah provinsi dan kabupaten harus bertanggung jawab. Segera duduk bersama, selesaikan konflik ini. Jangan dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya.
Ia menekankan, masyarakat di wilayah perbatasan berhak mendapatkan rasa aman dan hidup tenang seperti sebelumnya.
“Masyarakat harus hidup dalam kedamaian, kenyamanan, dan kerukunan seperti dulu. Itu hak mereka,” ucapnya.











