Dari Aktivis Nasional Menjadi Jembatan Dialog untuk Papua
Oleh: Sirajuddin Abdul Wahab
(Sekretaris Jenderal DPP KNPI Periode 2015–2018)
Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Ada yang memilih menjadi politisi, ada yang menetap sebagai aktivis, ada pula yang mengabdikan diri di dunia akademik. Namun tidak banyak yang mampu menjahit ketiganya menjadi satu jalan pengabdian yang utuh.
Muhammad Rifai Darus adalah salah satu di antaranya.
Saya mengenalnya bukan sebagai pejabat pemerintah, bukan pula sebagai juru bicara gubernur seperti yang dikenal publik hari ini. Saya mengenalnya sebagai seorang aktivis muda yang tumbuh dari proses panjang organisasi, terbiasa berdiskusi hingga larut malam, berdebat tentang masa depan bangsa, sekaligus bekerja tanpa banyak sorotan.
Perjalanan hidupnya tidak lahir dari kemewahan. Ketika masih berusia enam tahun, ia kehilangan ibundanya. Sebuah kehilangan yang tentu meninggalkan ruang kosong dalam masa kanak-kanaknya. Kehidupan kemudian membawanya tumbuh dalam asuhan sang ayah, seorang Imam Masjid Agung Ash Shalihin Abepura – Jayapura yang juga dikenal sebagai tokoh agama dan tokoh Nahdlatul Ulama di Irian Jaya (Papua saat ini).
Sebagai ulama, ayahnya hidup dalam kesederhanaan. Tidak banyak yang dimiliki, tetapi nilai-nilai kehidupan yang diwariskan sangatlah kaya. Kejujuran, amanah, kesederhanaan, dan sikap qanaah menjadi pelajaran yang tertanam kuat dalam dirinya sejak kecil.
Ketika sang ayah wafat pada tahun 2002, pada masa-masa awal ia membangun rumah tangga, warisan terbesar yang ditinggalkan bukanlah harta benda, melainkan karakter.
Saya percaya, fondasi itulah yang membentuk Rifai Darus hingga hari ini.
Dalam perjalanan organisasi kepemudaan nasional, ia dikenal sebagai sosok yang mampu membangun komunikasi dengan banyak kalangan. Kemampuannya menjembatani berbagai kepentingan membuatnya dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab strategis, termasuk ketika memimpin Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Yang menarik, di tengah besarnya organisasi dan luasnya jaringan yang dipimpinnya, Rifai tetap mempertahankan gaya hidup yang sederhana. Ia tidak pernah menjadikan jabatan sebagai alat untuk menciptakan jarak dengan orang lain. Sebaliknya, ia lebih sering hadir sebagai pendengar, penengah, dan pencari solusi.
Dalam berbagai dinamika organisasi yang kerap keras dan penuh perbedaan kepentingan, ia dikenal sebagai pribadi yang tenang.
Tidak mudah terpancing oleh situasi, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dan selalu berusaha melihat persoalan secara menyeluruh sebelum menentukan langkah.
Kemampuan berpikir taktis dan membaca arah perubahan inilah yang membuatnya mampu bertahan dan tetap relevan dalam berbagai ruang pengabdian yang berbeda.
Namun perjalanan hidupnya tidak berhenti pada aktivisme.
Di tengah kesibukan organisasi dan pengabdian publik, ia memilih kembali ke dunia akademik. Baginya, pengalaman lapangan harus diperkaya oleh pemikiran ilmiah agar dapat melahirkan solusi yang lebih tepat bagi masyarakat.
Pilihan itu membawanya menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang ilmu politik dengan predikat cum laude pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Menariknya, fokus kajiannya tidak jauh dari kegelisahan yang selama ini ia rasakan sebagai anak Papua dan sebagai warga negara Indonesia bagaimana membangun integrasi yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan di Tanah Papua.
Melalui disertasinya, ia menawarkan perspektif tentang pentingnya integritas kultural. Menurutnya, integrasi Papua tidak cukup dijaga hanya melalui pendekatan struktural dan ekonomi semata. Pembangunan tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan, besarnya anggaran, atau panjangnya jalan yang dibangun.
Pembangunan juga harus menghormati identitas, budaya, dan ruang dialog yang setara bagi seluruh komponen masyarakat.
Bagi Rifai Darus, kesejahteraan tanpa penghormatan terhadap identitas kultural berpotensi melahirkan kecemburuan sosial baru. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga social fabric atau tenun sosial Papua melalui penguatan nilai adat, penghormatan terhadap keberagaman, dan ruang partisipasi yang adil bagi seluruh masyarakat.
Di sinilah saya melihat keunikan Rifai Darus.
Ia tidak memandang Papua hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai ruang kehidupan yang memiliki sejarah, budaya, dan martabat yang harus dihormati. Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan sosial.
Perjalanan politiknya pun memberi warna tersendiri. Ketika dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, ia berada cukup dekat dengan berbagai proses pengambilan keputusan strategis partai.
Pada masa itu, ia dikenal sebagai salah satu kader yang memiliki akses dan komunikasi yang baik dengan Presiden Republik Indonesia ke-6, Dalam berbagai dinamika politik nasional yang silih berganti, termasuk ketika banyak tokoh berpindah haluan karena pertimbangan kekuasaan dan jabatan, Rifai memilih tetap berdiri pada garis loyalitas yang diyakininya. Ia tidak tergoda oleh berbagai tawaran politik yang mengharuskannya meninggalkan komitmen dan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Sikap tersebut memperlihatkan satu karakter yang jarang ditemukan dalam dunia politik modern kesetiaan terhadap nilai dan komitmen sering kali lebih penting daripada sekadar peluang kekuasaan.
Keunikan lain yang tidak banyak dimiliki tokoh lain adalah pengalamannya menjadi bagian dari komunikasi pemerintahan pada lintas kepemimpinan gubernur di Papua. Dalam rentang waktu yang panjang, ia dipercaya menjadi juru bicara bagi tiga gubernur Papua yang berbeda.
Kepercayaan seperti ini tidak lahir karena kedekatan politik semata. Ia tumbuh dari rekam jejak, kemampuan menjaga komunikasi, serta kapasitas membangun kepercayaan di tengah perubahan kepemimpinan dan dinamika politik yang terus bergerak.
Sejak tahun 2021, Rifai Darus juga memilih beristirahat dari kepengurusan aktif partai politik. Ia mengambil ruang yang lebih luas untuk mengabdikan diri pada dunia akademik, sosial kemasyarakatan, dan isu-isu strategis pembangunan Papua.
Di tengah aktivitas pemerintahan, ia tetap menjalankan tugas sebagai pengajar di IAIN Fattahul Muluk Papua dan Universitas Ingratubun Papua. Baginya, ruang kelas adalah tempat untuk menyiapkan generasi masa depan sekaligus ruang untuk menjaga tradisi berpikir kritis dan terbuka.
Pengabdiannya di lingkungan Nahdlatul Ulama juga terus berlanjut. Sebagai Wakil Ketua I PWNU Papua, ia aktif mendorong penguatan moderasi beragama, kebangsaan, dan harmoni sosial dalam kehidupan masyarakat Papua yang majemuk.
Pemikiran dan pengalaman panjang tersebut kemudian menemukan ruang aktualisasinya ketika ia dipercaya menjadi Juru Bicara dan Staf Khusus Gubernur Papua.
Dalam posisi itu, ia tidak sekadar menyampaikan informasi kepada publik. Ia menjalankan fungsi yang jauh lebih penting: membangun jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, antara Papua dan Jakarta, antara kebijakan dan aspirasi rakyat.
Dalam berbagai situasi politik yang sensitif, ia dikenal mengedepankan pendekatan komunikasi yang tenang, rasional, dan berbasis data. Ia memahami bahwa kata-kata yang diucapkan pejabat publik sering kali memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Karena itu, ia lebih memilih jalan dialog dibanding konfrontasi, lebih mengedepankan penjelasan dibanding provokasi, dan lebih percaya pada kekuatan komunikasi daripada kebisingan politik sesaat.
Hari ini, di tengah dinamika pembangunan Papua yang terus bergerak, ia tetap mendampingi Gubernur Papua dalam menjaga komunikasi publik yang teduh, konstruktif, dan menjembatani berbagai kepentingan yang ada.
Pengalaman panjangnya dalam organisasi nasional membuatnya memahami bahasa politik Jakarta. Sementara akar kehidupannya di Papua membuatnya mengerti denyut harapan masyarakat di kampung-kampung, pesisir, maupun perkotaan.
Kemampuan membaca dua dunia inilah yang menjadikan perannya relevan dalam menjembatani berbagai kepentingan yang sering kali tidak mudah dipertemukan.
Bagi saya, yang paling menarik dari perjalanan Muhammad Rifai Darus bukanlah daftar jabatan yang pernah diembannya. Bukan pula gelar akademik yang berhasil diraihnya.
Yang paling menarik adalah kemampuannya menjaga konsistensi antara nilai yang diajarkan orang tuanya dengan peran yang dijalankan hari ini.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan dan persaingan kepentingan, ia tetap berusaha memegang nilai-nilai yang diwariskan sejak kecil: hidup sederhana, bekerja dengan jujur, menjaga amanah, serta menempatkan pengabdian di atas kepentingan pribadi.
Mungkin karena itulah ia tetap nyaman berdialog dengan siapa saja; dari tokoh nasional hingga masyarakat kampung, dari akademisi hingga pemuda-pemuda yang baru belajar berorganisasi.
Pada akhirnya, jabatan akan datang dan pergi. Kekuasaan juga memiliki batas waktunya sendiri. Namun gagasan, integritas, dan jejak pengabdian akan selalu menemukan tempatnya dalam ingatan masyarakat.
Dan di tengah perjalanan panjang Papua menuju masa depan yang lebih baik, saya melihat Muhammad Rifai Darus sedang berusaha memainkan peran itu: menjadi jembatan dialog, penjaga akal sehat, dan bagian dari ikhtiar menghadirkan pembangunan yang lebih adil, bermartabat, dan berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Itulah Muhammad Rifai Darus yang saya kenal.
Selamat Ulang Tahun ke 50 ketum MRD 🙏 ( 8 Juni 1976 – 8 Juni 2026).










