Oleh: Karmin Lasuliha, S.Kom., M.KP.
(Pendiri Yayasan Bina Generasi Papua)
Di ufuk timur Nusantara, di mana cahaya fajar pertama kali menyentuh kulit bumi, Muhammadiyah hadir bukan sekadar membawa naskah teologis, melainkan menyusun sebuah epik peradaban melalui jalur edukasi.
Di atas Tanah Tabi yang sakral, gerakan ini telah menjelma menjadi jangkar bagi harapan masyarakat yang sempat terombang-ambing. Ia adalah sebuah anomali yang puitis, sebuah institusi yang lahir dari rahim kaum santri, namun melebarkan sayapnya sebagai pelindung bagi anak-anak Cenderawasih.
Muhammadiyah membuktikan bahwa pendidikan di Papua adalah proklamasi kemanusiaan yang melampaui batas kredo dan etnisitas, menjadi denyut nadi yang menghidupkan impian di setiap lembah dan pesisir.
Menilik jejak Universitas Muhammadiyah Papua (UMP) adalah memanggil kembali memori tentang STIKOM Muhammadiyah Jayapura. Dahulu, ia hanyalah sebuah noktah kecil, sebuah embrio yang dengan berani menyemai benih teknologi di tengah tantangan zaman yang keras.
Kini, ia telah bersalin rupa menjadi universitas, namun khitahnya tidak pernah bergeser sejengkal pun. Statistik yang mencatat bahwa 80 hingga 90 persen lulusannya adalah putra-putri asli Papua bukanlah sekadar angka mati. Itu adalah manifestasi keberpihakan yang tuntas; sebuah bukti bahwa di bawah naungan Sang Surya, identitas lokal dirayakan sebagai energi utama pembangun bangsa di tanah matahari terbit ini.
Kini, angin perubahan berembus lebih kencang seiring hadirnya Dr. Rustamadji sebagai nakhoda baru. Beliau bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan arsitek perubahan yang telah mengukir sejarah kesuksesan di Unimuda Sorong.
Namun, Dr. Rustamadji tidak bekerja dalam kesunyian. Di belakangnya, berdiri sebuah konsorsium intelektual dan praktisi yang “tidak main-main” sebuah tim strategis yang menjadi pilar perubahan.
Ada Ir. Edy Mirza, Dr. Nurjaya dan Rahman Noncy yang membawa ketajaman teknis dan manajerial, Iwan Solehudin, Muhammad Zamroni dan Udin Ramazakir dengan visi operasionalnya, serta Dr. Syarifudin, Dr. Nahria, Dr. Indah Sulistiani dan Abdul Qodir, M.Si. yang memperkuat fondasi akademik dan organisasi. Mereka adalah barisan kader yang memahami bahwa memimpin UMP adalah kerja kebudayaan yang memerlukan sinergi kolektif yang bertenaga.
Gebrakan tim ini menemukan bentuk nyatanya melalui pembangunan infrastruktur kampus yang lebih representatif di Tanah Tabi. Bagi Dr. Rustamadji dan timnya, membangun gedung bukanlah sekadar urusan semen dan baja, melainkan tentang memahat harga diri manusia Papua.
Mempersiapkan kampus yang megah adalah ekspansi nyata dari rasa peduli, sebuah upaya untuk memastikan mahasiswa asli Papua mendapatkan fasilitas yang setara dengan kota-kota besar di barat.
Gedung-gedung yang kelak berdiri tegak ini adalah monumen harapan, sebuah janji bahwa putra-putri Papua akan belajar di dalam “istana ilmu” yang mampu memicu daya kritis dan imajinasi mereka.
Pada akhirnya, saatnya Universitas Muhammadiyah Papua berbenah adalah panggilan sejarah yang tidak bisa ditunda. Di bawah kepemimpinan Dr. Rustamadji yang didukung oleh tim solid dan visioner, UMP sedang bersiap menjadi menara api di Pasifik.
Ini adalah kerja kolosal untuk memastikan bahwa dari rahim institusi ini, lahir para intelektual asli Papua yang siap mengguncang dunia. Dari STIKOM menjadi UMP, kita menyaksikan sejarah yang ditulis dengan tinta emas kepedulian.
Matahari itu kini berdiri tegak di langit Tabi, memastikan bahwa fajar kecemerlangan akan menyinari seluruh Tanah Papua dan akan selalu terbit dari timur dan menerangi jalan bagi generasi masa depan Papua.











