Menjelang Muktamar ke-35, mungkin sudah waktunya NU tidak hanya melihat Papua, tetapi juga belajar dari Papua.
Oleh: Dr. Muhammad Rifai Darus
PWNU Papua
Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, banyak hal sedang dibicarakan. Tentang kepemimpinan, kaderisasi, tata kelola organisasi, hingga bagaimana NU menghadapi perubahan zaman.
Saya tidak ingin menambah riuh perdebatan itu. Saya hanya ingin mengajak kita melihat NU dari sebuah tempat yang selama ini sering dipandang dari kejauhan: Papua.
Dari Papua, saya ingin menyampaikan satu kalimat sederhana:
“Papua tidak membutuhkan NU untuk mengubah Papua. Papua membutuhkan NU yang hadir untuk memperkuat kemanusiaan.”
Ini bukan berarti Papua menolak dakwah. Bukan pula berarti NU harus mengurangi nilai-nilai keislamannya.
Justru sebaliknya,
Dakwah yang matang bukan hanya tentang mengajak orang menjadi seperti kita. Dakwah juga tentang bagaimana nilai agama menghadirkan kedamaian, keadilan, pendidikan, kepedulian dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Papua bukan ruang kosong yang menunggu untuk diisi.
Papua telah memiliki adat, agama, kekerabatan dan cara sendiri dalam menjaga kehidupan bersama. Masyarakat Papua telah lama belajar bagaimana hidup dalam perbedaan.
Karena itu, ketika NU hadir di Papua, mungkin pertanyaannya tidak selalu harus:
“Apa yang akan kita bawa ke Papua?”
Tetapi juga:
“Apa yang bisa kita pelajari dari Papua?”
Bagi saya, pertanyaan itu penting. Sebab terlalu lama kita melihat hubungan pusat dan daerah dalam pola yang sederhana: yang satu mengajar, yang lain belajar.
Padahal Indonesia tidak dibangun hanya dari satu pengalaman. Indonesia tumbuh dari begitu banyak pengalaman hidup, termasuk pengalaman Papua dalam merawat keberagaman.
Salah satu nilai yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Papua adalah filosofi Satu Tungku Tiga Batu: adat, agama dan pemerintah.
Tiga unsur yang berbeda, tetapi tidak harus saling meniadakan. Justru harus saling menopang agar kehidupan tetap berdiri.
Bagi saya, ini bukan hanya milik Papua. Ini adalah pelajaran penting bagi Indonesia. Sebab Indonesia tidak akan menjadi kuat karena semua orang menjadi sama. Indonesia menjadi kuat karena kita mampu hidup bersama dalam perbedaan.
Di sinilah saya melihat NU memiliki ruang yang sangat besar. NU tidak perlu datang ke Papua dengan semangat untuk mengubah wajah Papua. NU dapat datang dengan semangat untuk mendengar, memahami dan berjalan bersama.
Kehadiran NU tidak harus selalu diukur dari berapa banyak lembaga yang dibangun atau berapa banyak orang yang berhasil dihimpun. Ukuran yang lebih penting adalah: seberapa besar kehadiran itu dirasakan manfaatnya oleh manusia.
Apakah pendidikan menjadi lebih baik?
Apakah masyarakat semakin rukun?
Apakah mereka yang lemah merasa dibela?
Apakah perbedaan semakin dihormati?
Dan apakah kehadiran agama membuat manusia semakin dekat satu sama lain?
Bagi saya, di situlah wajah agama yang sesungguhnya.
NU memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan Islam yang tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, tantangan NU ke depan bukan sekadar menjadi besar, tetapi menjadi semakin berarti.
Bukan hanya kuat secara struktur, tetapi kuat dalam memberi manfaat.
Bukan hanya banyak secara jumlah, tetapi dalam dan luas pengabdiannya.
Dan Papua dapat menjadi salah satu ruang bagi NU untuk belajar tentang itu.
Sudah saatnya Papua tidak hanya dilihat sebagai wilayah yang jauh di ujung timur Indonesia. Papua juga harus dilihat sebagai bagian dari pengalaman kebangsaan yang memiliki sesuatu untuk diajarkan kepada Indonesia.
Termasuk kepada NU.
Maka, menjelang Muktamar ke-35, saya ingin menitipkan satu pikiran sederhana:
“Jangan hanya membawa keputusan Muktamar ke Papua. Bawa juga pengalaman Papua ke dalam cara NU melihat masa depannya.”
Sebab mungkin, dari Papua, NU dapat kembali mengingat sesuatu yang sangat mendasar:
Bahwa agama pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara kepada manusia.
Tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan manusia.
Dan mungkin di situlah jalan panjang NU menuju masa depannya:
bukan sekadar menjadi organisasi yang besar, tetapi menjadi kekuatan yang semakin manusiawi.











