Belajar Menata Kampung dari Peta Global, Merawat Yobeh Menghidupkan Jayapura

banner 468x60

Penulis: Karmin Lasuliha, S.I.Kom., M.KP.
(Pendiri Yayasana Bina Generasi Papua)

Pernahkah kita berpikir, mengapa desa desa di berbagai belahan dunia begitu diagungkan karena keaslian dan kemandiriannya, sementara kampung kampung adat kita di tanah Papua sering kali hanya dipandang sebagai objek tontonan sesaat? Jawabannya bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada cara mereka merawat kedaulatan warga di atas tanahnya sendiri.

Mari menengok panggung global hari ini. Ajang kompetisi dan penghargaan pengembangan desa paling bergengsi di dunia saat ini adalah Best Tourism Villages yang digelar setiap tahun oleh UN Tourism. Penghargaan ini diberikan kepada desa desa yang sukses menggerakkan ekonomi lokal, menjaga kelestarian budaya, serta menerapkan pembangunan berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah Kampung Yobeh di Danau Sentani berdiri sejajar dengan desa desa pemenang dunia tersebut?

Pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026 ini, gemuruh gendang, liuk tari, aroma sagu, dan ketukan suling tambur berpadu di Kampung Yobeh. Acara bertajuk Pesta Rakyat Masyarakat Adat Kampung Yobeh bukan panggung seremonial yang selesai ketika lampu sorot dipadamkan. Ia adalah manifesto kultural, sebuah ikhtiar sunyi dari masyarakat adat untuk berkata pada dunia bahwa kampung ini hidup, bernapas, dan punya cara sendiri untuk merawat masa depan.

Jika kita meneliti peta global pengembangan desa terbaik dunia, setiap negara memiliki resep rahasia yang sebenarnya telah berakar di bumi Papua, termasuk di Kampung Yobeh. Model Indonesia diwakili oleh Desa Pemuteran di Bali yang menang berkat konservasi berbasis masyarakat, Desa Nglanggeran di Yogyakarta yang sukses dikelola pemuda untuk mencegah urbanisasi, serta Desa Penglipuran yang konsisten mempertahankan hukum adat dan arsitektur tradisional.

Yobeh memiliki modal sosial yang sama kuat melalui hak ulayat dan ikatan kekerabatan yang kokoh. Dari Jepang, Desa Asuka dan Shirakawa go membuktikan bagaimana gotong royong merawat lanskap kuno serta rumah tradisional menjadi motor ekonomi desa, yang sepadan dengan tradisi merawat rumah rumah panggung di atas air dan warisan leluhur di Yobeh.

Sementara itu, model Eropa melalui Desa Rupit di Spanyol dan Desa Mértola di Portugal sukses menghidupkan kembali produk lokal, keju, serta wisata sejarah dengan ekonomi sirkular, yang jalurnya dibuka lewat pameran UMKM dan olahan sagu dalam Pesta Rakyat Yobeh. Terakhir, model Tiongkok melalui Desa Huanggang dan Digang menggunakan teknologi untuk memasarkan produk langsung ke kota besar, menjadi cerminan bagi Jayapura agar rantai pasok pendek produk lokal dapat diperluas secara digital tanpa membocorkan keuntungan ke luar daerah.

Di berbagai desa teladan dunia, peradaban didorong oleh skema kepemilikan inklusif seperti Community Land Trust dan saham komunitas, memastikan warga lokal tidak terusir oleh kapitalisme properti. Di Kampung Yobeh dan kawasan Danau Sentani, konsep ini berakar dalam bentuk hak ulayat dan kepemilikan kolektif atas tanah dan perairan. Pesta Rakyat Yobeh membuktikan bahwa tanah adat bukanlah komoditas mati yang harus dijual demi semen dan beton kota.

Selama ini, ada ironi besar di tanah Papua di mana uang berputar di kota, sementara kampung kampung hanya menjadi penonton. Model ekonomi desa global mengajarkan pentingnya pengadaan progresif dan rantai pasok pendek, memastikan uang berputar di dalam lingkaran terdekat melalui kolaborasi antarwarga. Pameran UMKM, live cooking olahan sagu, dan suvenir masyarakat adat dalam Pesta Rakyat Yobeh adalah bentuk perlawanan terhadap kebocoran ekonomi ini, menjadikan sagu dan ikan Danau Sentani sebagai fondasi ekonomi mandiri.

“Pariwisata yang bermartabat bukanlah tentang memamerkan kemiskinan desa agar dikasihani pelancong, melainkan memamerkan kedaulatan budaya agar dunia menaruh hormat.”

Desa desa terbaik dunia merawat keaslian wilayahnya dengan disiplin ketat, menempatkan wisatawan sebagai penikmat kearifan lokal yang menginap di tempat warga, bukan merusak ekosistem. Kampung Yobeh dengan trip wisata danau, pameran foto, serta pemutaran film lokal memiliki potensi besar untuk menerapkan manajemen pariwisata bijak atau community based tourism. Kabupaten Jayapura tidak butuh resor mewah korporasi luar, melainkan pariwisata yang dikelola langsung oleh masyarakat adat di atas air Danau Sentani.

Perekonomian yang kokoh lahir dari penghargaan terhadap pekerjaan yang adil dan transfer pengetahuan antargenerasi. Demo gerabah, atraksi budaya, suling tambur, dan pementasan seni di Yobeh adalah proses transfer epistem pengetahuan lokal kepada generasi muda agar anak anak muda Sentani tidak menjadi pengangguran terdidik di tanah sendiri, melainkan manajer kebudayaan yang tangguh.

Jika ditarik dalam skala makro, adopsi model peradaban desa partisipatif berstandar global ini memberikan keuntungan strategis bagi Kabupaten Jayapura, pertama, menciptakan ketahanan ekonomi regional dengan mengurangi ketergantungan fiskal daerah pada dana transfer pusat melalui penggerakkan kantong ekonomi mandiri berbasis kampung. Kedua, mereduksi ketimpangan spasial dengan mencegah urbanisasi masif ke kota Sentani dan Jayapura, menjadikan kampung sebagai tempat yang layak serta sejahtera untuk ditinggali. Ketiga, melestarikan identitas di tengah arus modernisasi dengan menjadikan kebudayaan sebagai modal sosial (social capital) yang bernilai ekonomis tinggi.

Pesta Rakyat Kampung Yobeh adalah lonceng pertama. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan Kabupaten Jayapura tidak dibangun di atas meja birokrat yang dingin di perkotaan, melainkan di atas lumpur dan air Danau Sentani, di bawah tiang tiang rumah adat, dari tangan tangan mama mama yang mengolah sagu dengan penuh ketekunan.

Dari kampung kita merawat semesta. Dari Yobeh, kita tunjukkan pada dunia bahwa Papua tidak pernah kekurangan cara untuk berdiri di atas kaki sendiri, siap merebut tempat di panggung penghargaan desa wisata terbaik dunia.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply